JODHI YUDONO, JURNALIS SEKALIGUS PENYANYI PUISI


             
Sumber Foto : Google.com
             Jodhi Yudono sosok yang menjabat sebagai Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO). Lahir pada tanggal, 16 Mei 1963. Ia besar di Wanareja, Kabupaten Cilacap. Usai menamatkan SMA di Purwokerto, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Tujuhbelas Agustus (Untag) Semarang, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Di sanalah ia mulai merintis sebagai penulis puisi dan menyanyikan puisi dari beberapa karya penyair lain.
      “Kami membuat IWO sebagai bentuk perikatan supaya kami saling menguatkan, saling mendukung satu dengan yang lain. Tujuannya ialah untuk mensejahterakan kawan-kawan wartawan,” itu merupakan salah satu kutipan saat ditanya alasan ia mendirikan IWO. Pada Selasa, (21/02) seusai dia mengisi acara Indonesia Digdaya, Warung Apresiasi (Wapress), Bulungan, Jakarta Selatan.
       Di tengah persaingan yang ketat khususnya di dunia pers ini. Sekarang Wartawan Online mampu membuktikan bahwa sudah menjadi terdepan di antara media cetak, media televisi, dan radio. Yang dahulu wartawan online justru di nomor sekian kan oleh para masyakarat atau disebut dengan narasumber.
       Sekarang ini marak sekali berita-berita bohong atau yang biasa masyarakat sebut dengan hoak. Hal tersebut dikarenakan Indonesia menuju Pemilu. Sering sekali media online terserang berita tersebut dan ditakutkan mungkin berasal dari anggota IWO sendiri. dalam menanggapi kasus tersebut Jodhi Yudono mengatakan bahwa anggota yang terikat dalam organisasi IWO ini sebetulnya untuk bisa saling mengontrol satu dengan yang lain. Karena kalau satu menyebarkan berita hoak. Maka akan kena sanksi sosial.
       Di samping menjadi ketua wartawan Jodhi Yudono yang memilki bakat menyanyikan puisi pun ia bawakan di panggung-panggung konvesional, dan dipersembahkan untuk menghibur kepada sesama kawan yang tengah mengalami penderitaan dalam rangka penggalangan dana kemanusiaan bagi daerah-daerah yang terkena bencana. Perkenalannya dengan beberapa musisi Indonesia antara lain Totok Tewel, Iwan Fals, dan Syaharani, telah menghasilkan beberapa komposisi lagu yang digarap bersama-sama. Karya-karyanya antara lain Demi Kehidupan (komplikasi album “Satu Hati”), Jogja, Derai Cemara (puisi Chairil Anwar), Pamflet Cinta (puisi W.S. Rendra), dsb.

Apa tujuan IWO (Ikatan Wartawan Online) dibentuk?
Awal berdirinya perusahaan-perusahaan online. Wartawan online menjadi warga kelas tiga baik di perusahaannya maupun di masyarakat. Masyarakat Kalau ada wartawan online datang  dia bertanya Bapak darimana? Saya dari wartawan online. Biasanya di nomor sekiankan yang didahulukan dari media cetak, televisi, radio, dan media-media yang sudah mapan kemudian kami berpikir bahwa kawan-kawan ini harus diangkat martabatnya, sebagai jurnalis tidak boleh wartawan online dipinggirkan terus.

Untuk itulah, kami membuat Ikatan Wartawan Online (IWO) sebagai bentuk perikatan agar kami ini saling menguatkan, saling mendukung satu dengan yang lain, itu ujungnya ialah kesejahteraan kawan-kawan. Wujudnya seperti apa mensejahterakan kawan-kawan wartawan online itu? Itu nanti ada hal tersendiri. Tapi tertuju kesana. Satu saling menguatkan dan saling mendukung. Yang kedua adalah mensejahterakan kawan-kawan wartawan online dan sekarang terbukti bahwa wartawan online sudah  menjadi garda terdepan di konselasi dunia permediaan. sekarang bisa dilihat sendiri media cetak sudah sampai ke masa sunset (produksi yang tenggelam). Televisi juga dalam satu hari hanya berapa menit tayang. Itu juga sebentar lagi akan ditinggalkan. sekarang online adalah yang terdepan.

Dengan adanya IWO ini apakah pemerintah mendukung atau mengapresiasikan?
Mengapresiasikan, jadi ketika kami menyelenggarakan musyawarah bersama tanggal 8-9 September 2017 aparat pemerinta datang.

IWOkan ada di 34 provinsi, Bagaimana cara Anda sebagai ketua IWO mengatur semuanya di 34 provinsi?
Sekarangkan gampang ada what’s app (WA). Jadi di HP saya ada 100 group WA mulai dari Aceh sampai Papua, kabupaten dan kota. Biasanya saya bilang kalau sangat penting silakan japri karena saya tidak mungkin mengecek satu per satu. mengatur satu wartawan saja itu bikin pusing. Ini saya mengatur ribuan wartawan, itu seperti apa pusingnya kalau diturutin. Tapi saya menikmati, ini mungkin bagian dari perjalanan hidup saya dikasih tugas oleh tuhan untuk menemani kawan-kawan wartawan.

Kalau masuk IWO apa ada persyaratan khusus?
Ada. pertama dia bekerja di sebuah media yang berbadan umum, dia punya kartu pers yang dikeluarkan oleh media kemudian harus punya kartu anggota IWO, yang keempat harus ada contoh tulisan terus tidak mencuri. Apakah ada bayarannya? Tentu ada,  iuran anggota yang sebenarnya untuk mengikat organisasi kalau tidak ada uangnya. Uang yang dipungut dari wartawan itu tidak akan pernah jalan. Uang yang berjalan itu untuk foto kopi, gaji office boy itu butuh dana kami tidak menggantungkan dari siapapun jadi mandiri dari kawan-kawan.

Perbedaan tingkat rentan wartawan antara media cetak dan online, tingkat independensi lebih rendah mana orang-orangnya?
Sama saja tetapi makin kesini saya kira makin rentan oleh godaan sebetulnya lebih ke pemilik medianya kalau wartawan seperti peluru yang ditembakkan kemana saja dia harus melangkah. Yang menjadi persoalan ini adalah media yang mengatasnamakan kesejahteraan wartawan atau supaya perusahaannya jalan, dia terkadang berbicara bagaimana mencari keuntungan yang rentan itu sebenarnya perusahaan medianya. Kalau wartawan saya kira bagaimana kebijakan medianya. Kalau medianya idealisnya bagus, insha Allah akan bagus tetapi kalau sejak awal sudah tidak bagus, ya, kita tidak bisa menentukan. Banyak kawa-kawan wartawan yang digaji ala kadarnya bahkan di bawah UMR terus apa yang terjadi oleh pemilik perusahaannya? Suruh mencari uang sendiri. ini bagian dari perjuangan kami juga di IWO bagaimana supaya menekan pemilik-pemilik media supaya menggaji wartawannya dengan layak.

Apa bedanya menyayikan puisi dengan musikalisasi puisi?
Istilah musikalisasi puisi muncul di tahun-tahun 80-an atau 70-an. bahkan sebagai reprentasi dari puisi. yang diberi musik banyak ragamnya ada yang dinyayikan, ada yang diinterpretasikan hanya dengan musik.  Itu dilakukan oleh Ananda Sukarlan menerjemahkan puisi-puisinya Gunawan Muhammad dengan pianonya tanpa lagu, itu musikalisasi puisi. Ada juga dengan kontemporer, dsb. melihat itu semua ada kerancuan saya kira rancu. Ini yang benar mana sih mau dinyayikan, dikasih musik saja atau apa? Akhirnya saya mengeluarkan istilah nyanyian puisi yang sangat sederhana saya kira karena saya menyanyikan puisi.
Jadi istilahnya adalah nyanyian puisi terus saya menyebut diri saya apa penyanyi puisi? Jadi saya sederhanakan sebenarnya musikalisasi puisi terjemahannya sangat luas. Bisa puisi dinyanyikan, bisa puisi hanya dimusikkan, bahkan mungkin puisi dibiarkan saja sudah menjadi musikalisasi puisi. Orang-orang misalnya puisinya judulnya di malam hari diam-diam saja itu sudah musikalisasi puisi. Agar orang lebih mudah mencerna. Saya menyanyikan puisi makanya istialahnya menyanyikan puisi.

Ada tidak persamaan wartawan dengan seniman?
Ada. wartawan juga harus paham dunia seni, harus banyak membaca terutama karya sastra maka tulisan wartawan pasti akan lebih luwes dan lentur. Lain halnya kalau mereka tidak mengenal dunia seni itu biasanya kaku hanya menyajikan data. Data yang tidak ada rasanya.


Anda lebih dulu mendalami dunia puisi atau dunia jurnalis?
Puisi, waktu itu saya menulis puisi, nulis cerpen di Semarang kemudian saya kirim ke Jakarta dan saya hidup di Jakarta ini tidak sengaja. Kenapa? Ambil honor. Saya bertanya ada kerjaan, tidak? Oh ada sedang buka, saya ngelamar langsung diterima karena mereka sudah melihat tulisan. Tahun 90-an sampai 92-an diangkat karena perusahaan mulai berhitung. Ini anak kalau dibiarkan perusahaan bisa bangkrut karena tulisaan saya banyak sekali. jadi honor saya banyak sekali wartawan-wartawan senior saya kalah semua penghasilannya. Akhirnya saya diangkat supaya tidak mengeluarkan uang banyak.

Apa pandangan anda mengenai puisi?
Puisi itu sebenarnya kesimpulan dari apa yang kamu lihat, cerna, pikirkan. Makanya menulis puisi itu lebih sulit Dibanding cerpen. Karena cerpen itu kamu bisa bercerita apa adanya tapi kalau menulis puisi kamu menyimpulkan dari semua ini menjadi kalimat-kalimat yang lebih pendek tapi itu sudah mewakili dari keseluruhaan dan tentu saja harus mempertimbangkan estetika. Ada juga supaya estetika ini tambah hidup biasanya ada yang yang disebut yakni rima persamaan bunyi. Puisi menurut saya adalah keseluruhan dari semua itu. (NH)



Komentar

Posting Komentar