![]() |
| Sumber Foto : Google.com |
“Kami
membuat IWO sebagai bentuk perikatan supaya kami saling menguatkan, saling
mendukung satu dengan yang lain. Tujuannya ialah untuk mensejahterakan
kawan-kawan wartawan,” itu merupakan salah satu kutipan saat ditanya alasan ia
mendirikan IWO. Pada Selasa, (21/02) seusai dia mengisi acara Indonesia
Digdaya, Warung Apresiasi (Wapress), Bulungan, Jakarta Selatan.
Di tengah persaingan yang ketat
khususnya di dunia pers ini. Sekarang Wartawan Online mampu membuktikan bahwa
sudah menjadi terdepan di antara media cetak, media televisi, dan radio. Yang
dahulu wartawan online justru di nomor sekian kan oleh para masyakarat atau
disebut dengan narasumber.
Sekarang ini marak sekali berita-berita
bohong atau yang biasa masyarakat sebut dengan hoak. Hal tersebut dikarenakan
Indonesia menuju Pemilu. Sering sekali media online terserang berita tersebut
dan ditakutkan mungkin berasal dari anggota IWO sendiri. dalam menanggapi kasus
tersebut Jodhi Yudono mengatakan bahwa anggota yang terikat dalam organisasi
IWO ini sebetulnya untuk bisa saling mengontrol satu dengan yang lain. Karena
kalau satu menyebarkan berita hoak. Maka akan kena sanksi sosial.
Di samping menjadi ketua wartawan Jodhi
Yudono yang memilki bakat menyanyikan puisi pun ia bawakan di panggung-panggung
konvesional, dan dipersembahkan untuk menghibur kepada sesama kawan yang tengah
mengalami penderitaan dalam rangka penggalangan dana kemanusiaan bagi daerah-daerah
yang terkena bencana. Perkenalannya dengan beberapa musisi Indonesia antara
lain Totok Tewel, Iwan Fals, dan Syaharani, telah menghasilkan beberapa
komposisi lagu yang digarap bersama-sama. Karya-karyanya antara lain Demi Kehidupan (komplikasi album “Satu
Hati”), Jogja, Derai Cemara (puisi Chairil Anwar), Pamflet Cinta (puisi W.S. Rendra), dsb.
Apa
tujuan IWO (Ikatan Wartawan Online) dibentuk?
Awal
berdirinya perusahaan-perusahaan online. Wartawan online menjadi warga kelas
tiga baik di perusahaannya maupun di masyarakat. Masyarakat Kalau ada wartawan
online datang dia bertanya Bapak
darimana? Saya dari wartawan online. Biasanya di nomor sekiankan yang
didahulukan dari media cetak, televisi, radio, dan media-media yang sudah mapan
kemudian kami berpikir bahwa kawan-kawan ini harus diangkat martabatnya,
sebagai jurnalis tidak boleh wartawan online dipinggirkan terus.
Untuk
itulah, kami membuat Ikatan Wartawan Online (IWO) sebagai bentuk perikatan agar
kami ini saling menguatkan, saling mendukung satu dengan yang lain, itu
ujungnya ialah kesejahteraan kawan-kawan. Wujudnya seperti apa mensejahterakan
kawan-kawan wartawan online itu? Itu nanti ada hal tersendiri. Tapi tertuju kesana.
Satu saling menguatkan dan saling mendukung. Yang kedua adalah mensejahterakan
kawan-kawan wartawan online dan sekarang terbukti bahwa wartawan online sudah menjadi garda terdepan di konselasi dunia
permediaan. sekarang bisa dilihat sendiri media cetak sudah sampai ke masa sunset (produksi yang tenggelam). Televisi
juga dalam satu hari hanya berapa menit tayang. Itu juga sebentar lagi akan
ditinggalkan. sekarang online adalah yang terdepan.
Dengan adanya IWO ini apakah pemerintah mendukung atau
mengapresiasikan?
Mengapresiasikan,
jadi ketika kami menyelenggarakan musyawarah bersama tanggal 8-9 September 2017
aparat pemerinta datang.
IWOkan ada di 34 provinsi, Bagaimana cara Anda sebagai ketua
IWO mengatur semuanya di 34 provinsi?
Sekarangkan
gampang ada what’s app (WA). Jadi di HP saya ada 100 group WA mulai dari Aceh
sampai Papua, kabupaten dan kota. Biasanya saya bilang kalau sangat penting
silakan japri karena saya tidak
mungkin mengecek satu per satu. mengatur satu wartawan saja itu bikin pusing.
Ini saya mengatur ribuan wartawan, itu seperti apa pusingnya kalau diturutin.
Tapi saya menikmati, ini mungkin bagian dari perjalanan hidup saya dikasih
tugas oleh tuhan untuk menemani kawan-kawan wartawan.
Kalau masuk IWO apa ada persyaratan khusus?
Ada.
pertama dia bekerja di sebuah media yang berbadan umum, dia punya kartu pers yang
dikeluarkan oleh media kemudian harus punya kartu anggota IWO, yang keempat
harus ada contoh tulisan terus tidak mencuri. Apakah ada bayarannya? Tentu
ada, iuran anggota yang sebenarnya untuk
mengikat organisasi kalau tidak ada uangnya. Uang yang dipungut dari wartawan
itu tidak akan pernah jalan. Uang yang berjalan itu untuk foto kopi, gaji office boy itu butuh dana kami tidak
menggantungkan dari siapapun jadi mandiri dari kawan-kawan.
Perbedaan tingkat rentan wartawan antara media cetak dan
online, tingkat independensi lebih rendah mana orang-orangnya?
Sama
saja tetapi makin kesini saya kira makin rentan oleh godaan sebetulnya lebih ke
pemilik medianya kalau wartawan seperti peluru yang ditembakkan kemana saja dia
harus melangkah. Yang menjadi persoalan ini adalah media yang mengatasnamakan
kesejahteraan wartawan atau supaya perusahaannya jalan, dia terkadang berbicara
bagaimana mencari keuntungan yang rentan itu sebenarnya perusahaan medianya.
Kalau wartawan saya kira bagaimana kebijakan medianya. Kalau medianya
idealisnya bagus, insha Allah akan bagus tetapi kalau sejak awal sudah tidak
bagus, ya, kita tidak bisa menentukan. Banyak kawa-kawan wartawan yang digaji
ala kadarnya bahkan di bawah UMR terus apa yang terjadi oleh pemilik perusahaannya?
Suruh mencari uang sendiri. ini bagian dari perjuangan kami juga di IWO
bagaimana supaya menekan pemilik-pemilik media supaya menggaji wartawannya
dengan layak.
Apa bedanya menyayikan puisi dengan musikalisasi puisi?
Istilah
musikalisasi puisi muncul di tahun-tahun 80-an atau 70-an. bahkan sebagai reprentasi
dari puisi. yang diberi musik banyak ragamnya ada yang dinyayikan, ada yang
diinterpretasikan hanya dengan musik.
Itu dilakukan oleh Ananda Sukarlan menerjemahkan puisi-puisinya Gunawan
Muhammad dengan pianonya tanpa lagu, itu musikalisasi puisi. Ada juga dengan
kontemporer, dsb. melihat itu semua ada kerancuan saya kira rancu. Ini yang
benar mana sih mau dinyayikan, dikasih musik saja atau apa? Akhirnya saya
mengeluarkan istilah nyanyian puisi yang sangat sederhana saya kira karena saya
menyanyikan puisi.
Jadi
istilahnya adalah nyanyian puisi terus saya menyebut diri saya apa penyanyi
puisi? Jadi saya sederhanakan sebenarnya musikalisasi puisi terjemahannya
sangat luas. Bisa puisi dinyanyikan, bisa puisi hanya dimusikkan, bahkan
mungkin puisi dibiarkan saja sudah menjadi musikalisasi puisi. Orang-orang
misalnya puisinya judulnya di malam hari diam-diam saja itu sudah musikalisasi
puisi. Agar orang lebih mudah mencerna. Saya menyanyikan puisi makanya
istialahnya menyanyikan puisi.
Ada tidak persamaan wartawan dengan seniman?
Ada.
wartawan juga harus paham dunia seni, harus banyak membaca terutama karya
sastra maka tulisan wartawan pasti akan lebih luwes dan lentur. Lain halnya
kalau mereka tidak mengenal dunia seni itu biasanya kaku hanya menyajikan data.
Data yang tidak ada rasanya.
Anda lebih dulu mendalami dunia puisi atau dunia
jurnalis?
Puisi,
waktu itu saya menulis puisi, nulis cerpen di Semarang kemudian saya kirim ke
Jakarta dan saya hidup di Jakarta ini tidak sengaja. Kenapa? Ambil honor. Saya
bertanya ada kerjaan, tidak? Oh ada sedang buka, saya ngelamar langsung
diterima karena mereka sudah melihat tulisan. Tahun 90-an sampai 92-an diangkat
karena perusahaan mulai berhitung. Ini anak kalau dibiarkan perusahaan bisa
bangkrut karena tulisaan saya banyak sekali. jadi honor saya banyak sekali wartawan-wartawan
senior saya kalah semua penghasilannya. Akhirnya saya diangkat supaya tidak
mengeluarkan uang banyak.
Apa pandangan anda mengenai puisi?
Puisi
itu sebenarnya kesimpulan dari apa yang kamu lihat, cerna, pikirkan. Makanya
menulis puisi itu lebih sulit Dibanding cerpen. Karena cerpen itu kamu bisa
bercerita apa adanya tapi kalau menulis puisi kamu menyimpulkan dari semua ini
menjadi kalimat-kalimat yang lebih pendek tapi itu sudah mewakili dari
keseluruhaan dan tentu saja harus mempertimbangkan estetika. Ada juga supaya
estetika ini tambah hidup biasanya ada yang yang disebut yakni rima persamaan
bunyi. Puisi menurut saya adalah keseluruhan dari semua itu. (NH)

wah sangat menginspirasi kak :)
BalasHapus