Kisah Kakek Penjual Koran dan Gubuk Kecilnya

     
Sumber Foto : Dok. Pribadi
          Matahari terbit cahayanya sedikit demi sedikit menyinari bumi, cahaya itu mengenai tubuh. Ia  sibuk memindahkan koran-koran yang tertumpuk di jok motor hitam yang sudah tidak jelas mereknya untuk diletakkan di meja yang beralaskan spanduk putih. Penuh semangat, tak tampak sedikit pun kelelahan dari wajahnya. Sambil menunggu pembeli yang ingin mendapatkan informasi dari koran dagangannya, ia duduk menyapa setiap orang yang lewat di depannya. Jika ada orang yang ingin membeli koran  dengan sigap berdiri senyum seketika tersimpul melayani pembeli.

          Pesatnya perkembangan teknologi digital pada industri media memiliki dampak tersendiri khususnya bagi media cetak, seperti koran bisa dilihat dalam dekade terakhir, jumlah pembaca koran menurun secara signifikan. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan keinginan Kakek Erwin di usianya yang semakin uzur, kelahiran tahun 1948 dan rambut yang hampir keseluruhan berwarna putih untuk tetap bekerja sebagai penjual koran yang mulai dirintisnya sejak 2008 silam. Walaupun banyak teman seprofesinya memilih berhenti menjadi penjual koran karena berkurangnya pembeli dan beralih menjadi ojek daring.

          Dalam menjajakan koran dagangannya ia menyewa per bulan gubuk kecil yang dibangun dari potongan bambu, besi sebagai penguat, papan-papan, dan atap dari seng berlantaikan keramik biru yang berubah warna menjadi hitam. Di dalam gubuk itu terdapat bangku panjang sebagai tempat tidur, baju-baju yang bergelantungan, beberapa peralatan makan berlokasi di Jalan Kp. Serab, Kec. Sukmajaya, Kota Depok.

         Setiap hari sekitar pukul 03.30 saat orang masih terlelap dalam tidurnya ia memulai hari dengan membeli koran di agen Stasiun Depok Lama. Setelah membeli koran, ia pulang ke rumah berlokasi di Jalan Kober, Pondok Cina, Kec. Beji, Kota Depok untuk mengerjakan salat subuh dan kembali pergi ke rumah pelanggan tetapnya yang tak jauh dari gubuk kecil tempat biasa ia berjualan. Barulah ia ke gubuk kecilnya untuk merapikan koran-koran lainnya.

          Di usianya yang sudah lanjut ini, ia bersyukur masih diberikan kesehatan sehingga mudah melakukan aktifitas. Ia tidak mau berpangku tangan dan berdiam diri begitu saja yang ada penyakit menunggu di depan pintu. Ia memilih berjualan koran karena tidak mempunyai banyak kebisaan dan tak mungkin melamar pekerjaan di usianya saat ini.
Dalam sehari membeli 70 buah koran yang dahulu biasa ia beli sebanyak 150 buah. Pendapatan yang sangat kecil ditambah lagi ada beberapa koran jika tidak terjual, tidak bisa dikembalikan. terpaksa ia kumpulkan nantinya dijual di tukang rongsokan yang harga per kilonya lebih murah dari modal. Keuntungan yang didapat ia gunakan untuk makan sehari-hari bersama istri dan uang jajan tujuh cucunya jika sewaktu-waktu meminta ia telah memegang uang di saku.

          Kendala yang dialaminya selama berjualan koran, jika turun hujan ia mulai panik cepat-cepat menutupi koran dengan plastik yang berjejer di atas meja , ada saja beberapa koran yang basah. Pembeli yang berlangganan tiap bulan tidak membayar koran dua sampai tiga bulan lamanya. Biarpun begitu, ia tetap menghadapinya dengan tegar dan bahagia. Ia mengatakan malah dengan begitu uang yang ia terima akan berlipat nantinya.

          Ia akan terus berjualan koran meskipun pembeli dari waktu ke waktu semakin berkurang. Hal yang selalu memotivasi dirinya masih semangat bekerja di usia yang semakin menua adalah hiduplah dengan enjoy netral, seperti yang dilakukan nenek moyang kita terdahulu sehingga jauh dari penyakit, tidak sombong kepada orang lain dengan selalu menegur, dan lihatlah orang yang di bawah kita jangan lihat yang di atas saja. (NH)

Komentar