Polusi Udara Jakarta Memecah Rekor?


        
Sumber Foto : Google.com
          Berdasarkan pemantauan AirVisual tepatnya pada Selasa, 26 Juni 2019 Pagi sekitar pukul 08.00. Warga DKI Jakarta dihebohkan dengan informasi bahwa ibu kota dari Indonesia tersebut muncul dalam urutan pertama kota dengan tingkat polusi tertinggi. Bukan lagi tertinggi di tingkat Asia, melainkan tertinggi di tingkat dunia. Apa penyebab dan dampak dari terjadinya polusi udara Jakarta yang tak kunjung teratasi.

          AirVisual sendiri merupakan situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia. Jakarta masuk dalam tingkat polusi tertinggi, artinya polusi pagi itu tergolong yang terburuk dan udara yang tidak sehat. Setelah Jakarta, ada kota Lahore di Pakistan, Hanoi di Vietnam, Dubai di Uni Emirat Arab, serta Wuhan di China yang masuk lima besar kota dengan tingkat polusi udara tertinggi dunia.


          Bukanlah kali pertama Jakarta masuk ke dalam daftar kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia berdasarkan data dari AirVisual. Kondisi seperti ini sudah sering dijumpai jika kita mengecek situs atau aplikasi AirVisual ini setiap harinya.

          Perlunya peran pemerintah bersamaan dengan kerja sama warga Jakarta dalam mengatasi permasalahan ini. Selain banjir, kemacetan, polusi udara Jakarta juga menambah daftar tugas daerah untuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Beliaulah yang pasti diharapkan warga Jakarta karena memiliki peran tertinggi dalam pemerintahan.

          Menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sumber utama penyebab polusi udara Jakarta adalah banyaknya kendaraan bermotor. Tak hanya itu, bisa juga disebabkan dari pembangkit listrik tenaga uap yang berada di sekitar Jakarta dan limbah sisa rumah tangga.


          Banyaknya warga yang menggunakan kendaraan pribadi dibanding transportasi umum. Padahal saat ini Jakarta sudah menyediakan beberapa pilihan transportasi umum, seperti Transjakarta, MRT, KRL Commuter Line.
          Ke depannya bagaimana pemerintah mampu mengurangi pengguna kendaraan pribadi sehingga beralih ke transportasi umum, yakni salah satunya dengan meningkatkan jumlah dan kualitas transportasi umum.Tak hanya pemerintah yang mengatasi masalah ini, semua komponen  pun harus terlibat mengubah perilaku mengurangi  polusi udara.
          Dampak dari terjadinya polusi udara di Jakarta ialah terhambatnya aktivitas warga DKI Jakarta karena asap yang mengganggu penglihatan, yang paling dikhawatirkan dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat pada umumnya.
          Lebih khususnya lagi, orang-orang yang sensitif terhadap polusi udara akan mengalami penurunan daya tahan tubuh jika berkegiatan di luar ruangan dengan kondisi polusi demikian. Jadi, kelompok orang yang sensitif ini sebaiknya tetap berada di dalam rumah dan membatasi diri beraktivitas di luar ruangan.
          AirVisual menyarankan, dengan kondisi polusi udara yang demikian, masyarakat Jakarta sebaiknya senantiasa menggunakan masker, menggunakan alat pembersih udara, tidak membuka jendela rumah, dan menghindari dulu berolahraga di luar rumah.
          Warga DKI Jakarta nampaknya harus selalu sedia masker saat pergi ke luar rumah untuk melindungi saluran pernapasan mereka gunakan masker jenis N95 untuk mencegah dampak buruk dari polutan PM 2,5 masuk ke paru-paru.
          Untuk itu, diharapkan pemerintah yang memegang peran paling penting mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan masalah yang bukan kali pertama terjadi di Jakarta. Bukan justru diam dan mengatakan kondisi udara Jakarta baik-baik saja. Sebelum masalah ini berakibat fatal serta meluas. (NH)

Komentar

  1. semoga udara jakarta bisa kembali seperti sedia kala ya. jangan lupa kunjungi blog aku juga hehe

    BalasHapus

Posting Komentar